My Love From The Exoplanet #1


Author : ohnajla
Genre : romance, fantasy, school life, supranatural, friendship, teen
Length : Series
Rating : Teen
Main cast : Oh Sehun (EXO), Yook Ha Na (OC)
Support Cast : EXO, BTS, BTOB Sungjae



Hidup yang menyenangkan sebagai Yook Ha Na.
Punya kakak lelaki bernama Yook Sung Jae, pewaris kedua dari perusahaan YK, memiliki tubuh tinggi dengan wajah cantik serta otak brilian, dan merupakan primadona banyak orang.
Namun semenjak mengenal keduabelas sosok ini, dia berubah.
Primadona itu kini dijauhi oleh para gadis seusianya. Malah dia dianggap gila oleh kakaknya karena memilih hidup bersama keduabelas sosok ini.
EXO, itulah nama duabelas sosok tersebut.
**

Hana bukan gadis murahan, dia menyetujui tinggal bersama keduabelas sosok itu setelah menggelar pernikahannya di Exoplanet bersama sosok Oh Se Hoon. Ya, kini namanya bukan lagi Yook Hana, melainkan Oh Hana.
Dia serta keduabelas sosok itu tinggal di satu rumah super mewah di distrik Gangnam. Bahkan kalau diperkirakan, luas rumah ini jauh lebih besar dari luas sekolahnya. Hana tinggal di satu atap bersama suaminya.
Hari ini, tepat seminggu sejak pernikahannya.
Hana menggeliat tak nyaman di tempat tidurnya. Tidak sengaja kepalanya terantuk sesuatu. Dia perlahan membuka mata, dan melihat apa yang barusan mengenai kepalanya.
“Pagi.”
Hana tersenyum melihat pemuda berwajah datar yang berbaring di sisinya. Itu Oh Sehun, suaminya.
Oh Se Hoon, adalah satu dari duabelas sosok yang berasal dari Exoplanet. Mereka memiliki raga layaknya manusia, dengan tingkat ketampanan di luar batas. Sekilas mereka seperti manusia biasa, namun siapa sangka kalau mereka memiliki kekuatan supranatural yang bisa mengendalikan bumi. Sebut saja Oh Sehun, dia adalah sosok termuda dari duabelas lainnya yang memiliki kekuatan pengontrol udara. Hatinya keras seperti batu dan sulit disentuh. Kulitnya putih pucat dengan tinggi 184 cm. Dia bisa dengan mudah mengganti warna rambutnya, karena dia memiliki kekuatan untuk itu. Siapapun yang menyentuh kulitnya akan terkejut, dia berdarah dingin yang mengartikan kalau dia bukan hanya sosok asing melainkan juga vampire.
Sulit mengisahkan bagaimana Oh Se Hoon bisa menikah dengan Hana. Karena saat itu, dengan kekuatan teleport yang Kai miliki, Hana bisa dibawa ke Exoplanet dengan mudah. Awalnya Hana terkejut dia bisa berhadapan dengan duabelas EXO, tapi setelah tahu apa yang harus dilakukannya, justru keduabelas EXO lah yang tercengang. Hana tidak seperti manusia lainnya, di mana Sehun yang buas terhadap manusia justru malah membatu.
Hana memandang satu persatu dua belas sosok asing dihadapannya. Dari sosok yang mengaku sebagai penguasa Exoplanet sekaligus pencipta EXO, dia didatangkan kemari sebagai perantara EXO ke bumi.
“Yook Ha Na. Apa kau tahu sebab kenapa kau kukirim kemari?”
Hana menggeleng.
“Sebentar lagi akan ada perang di bumi. Perang ini, ditujukan untuk memusnahkan seluruh manusia di bumi. EXO kuperintahkan untuk menjaga dan melindungi planetmu dan karena itu mereka butuh perantara.”
“Lalu?” dahi Hana mengernyit. Dia tidak begitu paham dengan maksud penguasa itu, tapi dia penasaran dengan apa yang selanjutnya.
“Untuk itu, pilihlah salah satu dari mereka untuk kau nikahi. Karena dengan begitu, EXO bisa dengan mudah pergi ke planetmu.”
“Menikah?” Hana tidak percaya dengan apa barusan yang dia dengar. Usianya masih 16 tahun, dan dia sudah disuruh memilih seseorang untuk dinikahi? Perintah ini jauh lebih mengerikan dari pada perjodohan antara pewaris perusahaan. Karena dia bahkan baru pertama ini melihat duabelas sosok EXO.
Semuanya tampan, bahkan tingkat ketampanannya lebih tinggi daripada manusia di bumi. Hana butuh waktu lima belas menit untuk memandangi satu orang sebelum berpaling. Karena entah bagaimana, dia bisa melihat segala hal dari mereka. Tidak cuma fisik, tapi juga analisa diri mereka yang begitu detail di mata Hana.
Untuk seseorang yang berdiri di paling ujung, deskripsinya sudah lebih dari cukup untuk Hana. Memiliki tinggi 173 cm, wajah seperti anak 13 tahun, usia 1500 tahun, mata bulat, otot kekar, bentuk wajah kecil, garis mata lucu, memiliki kekuatan pembentuk es, kecepatan lari 200 km/jam, tulang lengan yang bisa berubah menjadi besi, emosi netral & stabil, tingkat dewasa tertinggi, nama Asia Kim Min Seok, nama Eropa & America Aiden Martin, nama EXO Xiumin.
Di sebelahnya, memiliki tinggi 176 cm, wajah mendekati gadis, usia 1500 tahun, wajah khas China, otot kaki kekar, memiliki kekuatan membaca & mengatur pikiran, ketahanan kaki tinggi, IQ 400, emosi dominan positif & stabil, tingkat keramahan tertinggi kedua, nama Asia & nama EXO Lu Han, nama Eropa & Amerika Ethan Kyle.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 188 cm, wajah blasteran Asia-Eropa, usia 1500 tahun, mata elang, memiliki kekuatan pengendali naga api, memiliki sepasang sayap hitam, emosi dominan negative & stabil, ahli berbagai bahasa bumi, nama asia Wu Yi Fan, nama Eropa & Amerika Adrian Derrick, nama EXO Kris.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 173 cm, kulit putih bersih, usia 1000 tahun, berwajah angelic, memiliki kekuatan pengendali air & sepasang sayap putih, emosi dominan positif & labil, tingkat kepedulian tertinggi, tingkat kedewasaan tertinggi kedua, tubuhnya bisa berubah menjadi tameng, nama Asia Kim Joon Myeon, nama Eropa & Amerika Steven Angelo, nama EXO Suho.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 177 cm, kulit putih bersinar, usia 1000 tahun, berwajah angelic, kekuatan penyembuhan, emosi dominan positif & stabil, tingkat keramahan tertinggi, tingkat kelenturan tubuh tertinggi, nama Asia Zhang Yi Xing, nama Eropa & America Erik Justin, nama EXO Lay.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 174 cm, wajah seperti anak 13 tahun, usia 800 tahun, mata elang, kekuatan pengendali cahaya, emosi netral & labil, tingkat keceriaan tertinggi, mampu mendengar berbagai jenis suara, nama Asia Byun Baek Hyun, nama Eropa & Amerika Calvin Sean, nama EXO Baekhyun.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 175 cm, rahang tegas, usia 800 tahun, kekuatan pengendali listrik & pencipta petir, emosi dominan positif & stabil, tingkat keramahan tertinggi ketiga, memiliki suara yang mampu merusak gendang telinga manusia, tingkat kepedulian tertinggi kedua, nama Asia Kim Jong Dae, nama Eropa & Amerika Samuel Jonathan, nama EXO Chen.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 186 cm, mata bulat, usia 800 tahun, kekuatan pengontrol api, emosi dominan positif & stabil, tingkat keceriaan tertinggi kedua, keistimewaan suanya yang mampu membuat manusia tertidur, nama Asia Park Chan Yeol, nama Eropa & Amerika Karl Drew, nama EXO Chanyeol.
Di sebelahnya lagi. Memiliki tinggi 173 cm, mata bulat, wajah seperti anak usia 13 tahun, usia 500 tahun, kekuatan pencipta gempa & pengontrol tanah,  emosi netral & labil, nama Asia Do Kyung Soo, nama Eropa & Amerika Ezra Grady, nama EXO D.O.
Di sampingnya, memiliki tinggi 184 cm, mata elang, usia 500 tahun, pengatur waktu, ahli dalam segala bidang beladiri, tingkat ketahanan tubuh tinggi, emosi netral & labil, nama Asia Huang Zi Tao, nama Eropa & Amerika Graham Luke, nama EXO Tao.
Kemudian, sosok yang membawanya dari Bumi, memiliki tinggi 181 cm, usia 250 tahun, pemilik kekuatan teleport, tingkat kelenturan tertinggi kedua, tingkat ketahanan tubuh tertinggi kedua, punya pesona yang bisa membuat wanita mana saja jatuh hati, kulit cokelat eksotis, rahang tegas, emosi netral & labil, lensa matanya bisa berubah dengan warna apapun, nama Asia Kim Jongin, nama Eropa & Amerika Louis Keith, nama EXO Kai.
Dan yang terakhir. Memiliki tinggi 185 cm, usia 250 tahun, kulit putih pucat, lensa mata cokelat tanah, punya kemampuan mengganti warna rambut sesuai emosi, pengendali udara & angin, satu-satunya berdarah dingin, rahang lancip, emosi tidak diketahui, tingkat ketahanan tubuh, kelenturan, keramahan, kepedulian, keceriaan, dan kedewasaan tidak diketahui, mata elang, aura tidak diketahui, punya kemampuan membuat bayangan, tipe vampire, nama Asia Oh Se Hoon, nama Eropa & Amerika King Harrison, nama EXO Sehun.
Untuk yang terakhir ini, entah kenapa Hana bisa merasakan jantungnya yang tidak berhenti berpacu. Sorot mata yang tajam serta ekspresi dingin, seketika sanggup membuat perasaannya aneh seperti ini. Untuk beberapa lama Hana tidak bisa berpikir. Dia terpaku, begitu juga dengan Sehun.
“Yook Ha Na.”
Hana tersenyum melihat perubahan warna rambut Sehun menjadi pelangi. Baginya itu lucu karena Sehun terlihat manis.
“Yook Ha Na.”
“Oh iya.”
“Kau sudah menentukan pilihanmu?”
Hana mengangguk pasti.
“Tariklah tangannya.”
Hana melangkah dengan tenang mendekati Sehun yang malah bergeser mundur. Gadis itu bisa melihat warna rambut Sehun berubah menjadi keperakan. Entah bagaimana bisa, Hana tahu kalau Sehun sedang takut dan melarangnya untuk mendekat. Ia pun berhenti dan menatap Sehun dalam-dalam.
“Oh Sehun.. aku tahu maksud dari perubahan rambutmu,” ucap Hana spontan. Di planet ini, dia merasa bahwa dirinya berubah.
Warna rambut Sehun berubah maroon, Hana tahu kalau Sehun marah.
Hana tersenyum. “Aku tahu kau marah.”
Sorot mata Sehun menajam, namun ekspresinya tetap dingin seperti semula. Sekian lama mereka bertatapan, akhirnya warna rambut Sehun berubah putih tanda bahwa dia menyerah. Hana mendekat kemudian meraih lengan Sehun dengan lembut. Saat itu juga, warna rambut Sehun berubah menjadi merah menyala, tanda bahwa perasaannya sedang aktif.
Sambil bergandengan tangan, mereka melangkah mendekati penguasa Exoplanet. Di saat itulah dilaksanakan upacara pernikahan di mana Sehun dan Hana diikat oleh kalung berbentuk lambang EXO yang semula saling menyatu.
Rambut Sehun terlihat merah mengkilat ketika dia berhadapan dengan Hana. Sorot matanya bisa sedikit melembut, tangannya bisa bergerak bebas mengusap wajah Hana dan wajahnya mau mendekat untuk mencium kening Hana. Di saat itulah, mereka resmi menjadi pasangan.
“Pagi,” balas Hana sambil memeluk Sehun. Tubuh Sehun yang dingin justru sangat disukainya. Dia tidak tahu kalau rambut Sehun kini berubah merah mengkilat.
Sehun mengusap rambut Hana dengan lembut. “Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak, nyenyak sekali.”
“Tidak bermimpi buruk, kan?”
Hana menggeleng. “Tidur di mana pun, jika bersama dirimu, akan selalu nyenyak dan tanpa mimpi buruk.”
Jawaban itu cukup memuaskan Sehun hingga rambut pemuda itu berubah hijau terang, tanda kalau dia merasa nyaman.
Hana menyudahi pelukannya, dia memandang Sehun sebentar. “Ada sesuatu yang ingin kau makan?”
“Darah.”
Hana mengangguk. “Baiklah, kau boleh mengambilnya dariku.”
Rambut Sehun berubah menjadi maroon. “Aku tidak pernah punya keinginan untuk mencobanya.”
Hana hanya tersenyum. Dia tidak mau merasakan amarah Sehun. Kalau Sehun memang tidak mau dipaksa, Hana lebih baik diam.
“Sekarang kita harus bersiap ke sekolah,” ucap Sehun ketika rambutnya telah berubah menjadi hitam. Hitamnya rambut Sehun menandakan kalau dia tenang dan emosinya stabil.
Hana mengangguk. Mereka pun bangkit dan mulai beranjak. Hana memilih untuk ke dapur dulu sedangkan Sehun ke kamar mandi. Kehidupan mereka sama seperti kehidupan manusia lainnya. Hanya yang membedakan adalah siapa Sehun itu.
Keluar dari kamar, Hana disambut dengan kebisingan yang ditimbulkan ‘tiga bersaudara muda’, itu sebutan yang dia pakai untuk interaksi antara Baekhyun, Chen dan Chanyeol. Pagi-pagi seperti ini tiga makhluk tampan itu sudah ramai di depan televise.
“Yaa!” pekik Baekhyun ketika sticknya direbut Chanyeol.
“Ini waktuku, babo!” balas Chanyeol.
Baekhyun tidak hilang akal, dia langsung menyabet stick Chen.
“Yaa!” kali ini Chen yang berteriak. Untungnya dia tidak menggunakan oktaf yang tinggi, sehingga telinga siapapun tidak menjadi korban.
Baekhyun dan Chanyeol asik beradu tokoh di permainan mereka, sementara Chen hanya duduk dengan tangan terlipat di dada. Tiba-tiba ada ide brilian yang muncul di pikiran Chen. Pemuda itu menyeringai dan dalam sekejap layar televise berubah hitam.
“Mwo?” seru Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.
“Bisakah kalian tenang?” celetuk Suho yang tiba-tiba muncul. Di tangannya terdapat secangkir kopi hitam favoritnya.
Chen menjulurkan lidah ketika Baekhyun dan Chanyeol menoleh padanya.
Hana tersenyum melihat mereka. Sebelumnya (sebelum menikah dengan Sehun) dia belum pernah melihat keramaian seperti ini di rumah. Hidup sebagai pewaris tahta jauh lebih mengerikan dari pada hidup sebagai istri dari Exoplanet.
Di dapur, Hana sibuk membuat sarapan pagi untuk mereka semua. Khusus Sehun, dia hanya perlu menuangkan sekantong darah dari kulkas ke sebuah mug. Sementara untuk yang lain dia hanya membuat sandwich masing-masing dua potong.
“Sedang apa?”
Hana menoleh dan langsung menemukan wajah penasaran Kai. Dia tidak perlu terkejut lagi kalau Kai memang suka sekali datang tiba-tiba.
“Tolong panggilkan yang lain. Kita sarapan bersama.”
“Ok,” sekejap Kai hilang.
Setelah semuanya selesai, dia membawa nampan berisi dua piring sandwich dan segelas darah ke ruang makan. Meja makannya seperti meja makan keluarga kerajaan. Total kursi ada enam di tiap sisi dan satu yang di bagian depan. Kursi paling depan selalu diduduki Sehun, selaku anggota EXO yang sudah menikah. Hana meletakkan gelas berisi darah itu ke tempat Sehun. Kemudian meletakkan piring berisi masing-masing dua sandwich ke tempat yang lain termasuk tempatnya.
“Butuh bantuan, nona?” itu suara Chen.
Hana mengangguk. “Tolong bawakan botol susu di kulkas kemari.”
“Biar aku saja,” pekik Luhan yang baru datang. Pemuda itu berdiri di sebelah Hana, memejamkan mata sejenak lalu menatap kulkas yang terlihat dari tempatnya berada. Dalam sepuluh detik, pintu kulkas terbuka dan botol susu yang dimaksud melayang keluar. Lalu sepuluh detik kemudian botol itu sudah diam manis di meja makan.
“Gomapda,” ucap Hana sambil tersenyum.
Luhan menoleh pada Chen, dia menyeringai yang dibalas dengan decihan.
“Makan!!” pekik Kai yang sudah duduk manis di kursinya.
Satu persatu member EXO duduk di kursi masing-masing. Masih ada dua kursi kosong yaitu kursi Hana dan Sehun. Hana sendiri sedang menuangkan susu ke masing-masing gelas.
“Hana-ya, mana suamimu?” tanya Xiumin saat tahu hanya Sehun yang belum datang.
“Wae?” Sehun datang dari kamar dengan handuk di kepalanya. Sebenarnya mudah saja untuk mengeringkan rambut, dia hanya harus membuat angin-angin hangat di kepalanya. Tapi sebagai suami seorang manusia, dia ingin hidup seperti manusia.
“Butuh bantuanku?” tanya Chanyeol.
“Ani,” balas Sehun cepat. Dia duduk di kursinya, mengalungkan handuk itu di leher.
“Menu makananmu sehat sekali,” usil Baekhyun diiringi kekehannya.
Sehun tak peduli. Dia langsung meneguk darah di gelas itu hingga habis. Di saat menikmati sarapannya itu, Hana yang sudah selesai membagi susu pada yang lain, beralih membantu Sehun mengeringkan rambut.
“Cepat sekali mandinya,” ucap Hana dengan tatapan focus pada kegiatannya.
“Memang harus berapa lama?” Sehun mengusap bibirnya yang belepotan dengan warna darah.
Setelah selesai, dia mengalungkan handuk itu kembali ke leher Sehun sekaligus mengalungkan kedua tangannya. “Rambutmu wangi sekali..”
Kai memandang keduanya jijik. Dia berusaha tidak melihat dua orang itu agar nafsu makannya tidak hilang. Beda lagi dengan Baekhyun yang sudah memparodikan pukulan tangan kecilnya.
Bukan Sehun namanya kalau dia peduli. Dia meraih satu sandwich dari piring Hana, kemudian dia suapkan ke bibir gadisnya. “Makanlah.”
Hana tersenyum senang dan menggigit sandwich tersebut. Dia sengaja memeluk Sehun seperti ini agar Sehun mau menyuapinya. Beginilah Yook, ah Oh Hana tepatnya jika ingin bermanja-manja.
“Yaa, makanlah sendiri,” tegur Sehun sambil menoleh ke sebelah kiri, langsung berhadapan dengan wajah Hana.
Chup!
“Aku ingin disuapi olehmu,” ucap Hana yang mengiringi perubahan warna rambut Sehun menjadi merah menyala.
Sehun menghela napas. “Baiklah.”
“Oh jinjja!! Yaa! kalian kalau bermesraan jangan disini kenapa!” ketus Baekhyun sebelum meneguk rakus susunya.
“Menjijikkan,” balas Kai.
Hana hanya terkekeh, sedangkan Sehun tetap focus menyuapi gadisnya.
**
Mereka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Sehun tidak masalah dengan ini karena kulitnya tidak seperti kulit vampire biasanya yang harus terlindung dari sinar matahari. Kulitnya bahkan perlu menyerap sinar matahari agar energinya tetap stabil.
Di sebelahnya berjalan Hana. Gadis itu tidak sekalipun melepaskan genggaman darinya. Justru saat memasuki gerbang sekolah, genggaman itu semakin kuat.
Semua siswa memandang kagum pada EXO. Hanya EXO, Hana justru dibenci. Para gadis benar-benar iri melihat Hana yang sempurna bersanding dengan Sehun yang jauh lebih sempurna. Mereka menggumamkan kata-kata pedas sebagai bentuk kekesalan mereka terhadap Hana.
Luhan yang berdiri di sisi Hana yang lain, hanya menggeleng kecil saat mendengar pikiran semua siswa. “Mereka benar-benar iri padamu.”
“Jinjja?” gumam Hana dengan kepala tertunduk.
“Eoh. Bahkan ada yang berharap menjadi pacar Sehun.”
Hana serta Sehun spontan menoleh pada Luhan.
“Jinjja?” gumam Hana lagi. Luhan mengangguk. Tak sengaja pemuda itu melihat sedikit rambut Sehun yang tertutupi oleh topi, berubah menjadi maroon.
“Rambutmu berubah,” ucap Luhan lirih. Hana langsung menoleh pada Sehun.
“Yaa, ini di sekolah, Oh Sehun.”
“Siapa orang yang mengharapkan itu?” pandangan Sehun tertuju lurus pada Luhan, dia sama sekali tidak memedulikan Hana.
Luhan mengeluarkan dua lembar tisu dari sakunya. “Ikuti pergerakan dua tisu ini.”
Dalam sepuluh detik, kedua tisu itu melayang seolah diterpa angin menuju kerumunan siswa perempuan. Sehun dan Hana mengikuti pergerakannya hingga berhenti di bahu dua gadis yang sedang asik mengobrol.
Sehun melepaskan genggaman Hana kemudian melangkah mendekati kedua gadis itu. Pergerakannya yang tiba-tiba ini membuat para siswa terkejut begitu juga dengan Hana. Ketika Hana akan mengikutinya, Luhan sudah lebih dulu menahannya.
“Di sini saja. Aku akan membaca pikiran dua gadis itu dan mengatakannya padamu.”
“Kenapa tidak membaca pikiran Sehun juga?”
Luhan menggeleng. “Dia itu seperti berpikir dengan rambutnya. Aku tidak tahu makna warna rambutnya, kau bisa baca sendiri bukan? lagipula akses ke pikirannya juga susah.”
Hana mendengus. Dia menurut saja dengan perintah Luhan. Dari sini dia bisa melihat Sehun berhadapan dengan kedua gadis itu.
Di saat Sehun sedang berbincang dengan dua gadis tersebut, entah dari mana datangnya, Baekhyun dan Kai sudah berdiri di sekitar Hana.
“Mau tahu apa yang mereka bicarakan?” tawar Baekhyun tepat di telinga Hana. Hana langsung menoleh dan mengangguk.
“Jebal katakan.”
“Kalian.”
Kedua gadis itu langsung menoleh. Mereka membelalak saking terkejutnya, meski dalam hati mereka senang Sehun mau mendekat.
“N-ne?”
“Berhentilah bermimpi.”
Kedua gadis itu membelalak lagi, kali ini suasana hati mereka tak menentu. Salah satu dari keduanya yang cukup berani mulai meluncurkan pertanyaan.
“Apa maksudmu?”
“Berhentilah bermimpi tentangku, berhentilah membenci kekasihku. Kalian tidak ada apa-apanya dibanding dia, arra?”
Gadis yang sejak tadi diam, merasa sakit hati, sementara yang pemberani mulai membenci ‘kekasih’ yang dimaksud Sehun. “Ne! kami memang tidak ada apa-apanya dibanding Yook Ha Na! kami memang tidak cantik, tidak kaya, tidak cerdas, tapi setidaknya kami punya perasaan yang jauh lebih baik darinya!”
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Selagi aku masih bisa menahan emosiku, berhentilah bermimpi.”
“Yaa! memangnya kenapa kalau aku tidak berhenti bermimpi? Kau mau melakukan apa padaku?”
Rambut Sehun berubah merah pekat.
Hana yang melihat perubahan warna rambut Sehun itu, mulai merasakan sesuatu yang berbahaya. Dia harus segera menghampiri Sehun dan menahannya.
“Kau mau kemana?” Luhan tetap menahan tangannya.
“Lepaskan! Aku harus menahannya! Lepas!!”
Luhan tak kunjung melepas cengkramannya, dia sekuat tenaga menahan Hana agar tidak berlari ke sana.
“Andwae Sehun!! Tetaplah tenang!!”
“Sepertinya dia tidak mendengarmu,” ucap Kai enteng sebelum menghilang.
Di saat Sehun maju selangkah, kepanikan Hana semakin menjadi. Gadis itu bahkan menangis saat Luhan terlalu kuat mencengkram lengannya.
Sehun sudah ingin sekali membunuh kedua gadis itu dan menghisap darahnya sebanyak mungkin. Sesuai perubahan rambutnya yang menjadi merah pekat, ia benar-benar marah. Dia sendiri sebenarnya tidak begitu tahu kenapa bisa marah seperti ini. Hanya, emosinya memang lebih labil dari yang lain. Apalagi saat marah, dia merasa kelaparan seolah belum makan selama sebulan.
Selangkah lagi dia bisa menjangkau kedua gadis itu dan membunuhnya, namun…
“Annyeong.”
Rambutnya berubah menjadi hitam kembali. Dengan ekspresi yang sama, dia mengerutkan kening tanda bahwa dia terkejut.
Kai sedang memunggunginya sambil melambai pada kedua gadis itu. Wajahnya dibuat seceria dan setampan mungkin sampai membuat korbannya (dua gadis itu) meleleh.
“Kalian kenapa berpelukan seperti itu? ey.. kalian… yuri?”
“Ani! Kami bukan yuri,” reflek kedua gadis itu saling menjauhkan diri.
Kai menyeringai. “Kalau begitu, adakah yang mau memelukku?”
Rasa lapar Sehun hilang, tergantikan dengan rasa mual, mual mendengar ucapan Kai. Untuk itu dia memilih pergi dari mereka.
Luhan melepaskan cengkramannya ketika Sehun datang. Dia tidak lagi melarang Hana untuk berlari pada Sehun.
Gadis itu langsung memeluk Sehun, erat sekali. Dia sampai tidak peduli dengan kebencian para siswa yang kian membara. Dia hanya ingin memeluk kekasihnya dan bersyukur karena kekasihnya ini tidak sampai membunuh orang.
“Ada apa?” tanya Sehun sambil mengusap rambut Hana.
“Aku senang kau tidak membunuh mereka,” ucap Hana sambil memejam dan menghirup aroma Sehun. Ada satu lagi kemampuan Sehun yang saat itu tidak terlihat oleh Hana, pemuda ini bisa membuat tubuhnya mengeluarkan berbagai macam bau sesuai dengan kondisi hatinya.
“Kau bisa membaca pikiranku?”
Hana menggeleng. “Tapi mungkin akulah satu-satunya yang bisa.”
Sehun membalas pelukan itu sebentar, “yaa, ini di sekolah, Oh Ha Na.”
Perasaan Hana berdesir mendengarnya. Dia tersenyum lalu menyudahi pelukan itu.
“Selesai acara pelukannya? Kaja masuk kelas,” ucap Luhan yang ternyata melihat mereka sejak tadi bersama Baekhyun.
Wajah Hana memerah. Dia hanya terlalu malu karena banyak orang yang melihat. Sehun tiba-tiba menggandeng tangannya dan mereka berdua berjalan bersandingan menuju ruang kelas. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai.
**
Di kelas 2-1, Hana dan Sehun duduk sebangku. Tidak hanya Sehun, semua member EXO juga masuk ke kelas ini. Mereka menempati sederet bangku yang terdiri dari tujuh baris. Baris pertama ditempati Suho dan Kris, baris kedua ditempati Lay dan Xiumin, baris ketiga ditempati Baekhyun dan Chanyeol, barisan keempat ditempati Hana dan Sehun, baris kelima ditempati Chen dan D.O, baris keenam ditempati Tao dan Kai lalu baris terakhir ditempati Luhan. Sengaja Luhan memilih bangku sendiri karena dia ingin memecahkan semua koleksi rubiknya dengan tenang. Sampai detik ini, sudah ada limaratus rubik yang berhasil dia pecahkan. Itu semua berkat IQ 400 serta kekuatan telekinetiknya.
Pelajaran hari ini adalah matematika statistika. Ini adalah pelajaran yang paling dibenci Hana. Dia memang cerdas dengan IQ 215nya, tapi dia pantang dengan pelajaran ini. Berulang kali dia mengacak rambutnya frustasi.
Sehun yang sejak awal hanya duduk tenang tanpa mengeluarkan apapun dari dalam tas, menoleh pada kekasihnya dengan dahi berkerut.
“Wae?”
Hana menoleh. Dia menghela napas, kemudian meletakkan pena dan merebahkan kepala di bahu Sehun. Aroma jeruk dari tubuh Sehun membuatnya tenang.
“Aku benci statistika..”
Sehun memainkan jarinya di depan wajah Hana, membuat angin sepoi kecil untuk menjernihkan pikiran kekasihnya. Hatinya hanya mengenal Hana, jadi jika bukan Hana yang seperti ini, mana mau Sehun membuang tenaga untuk melakukan hal tersebut.
“Eotteohke?”
Hana memejam dengan bibir membentuk lengkungan. “Gomawo.”
Sehun merangkul bahu Hana agar gadis itu merasa nyaman bersandar di bahunya. Dia tidak peduli ketika beberapa siswa melihat mereka dengan tatapan tidak suka, salah satunya Chen dan D.O yang duduk tepat di belakangnya.
“Ige mwoya?” desis Chen sambil melempar karet penghapus ke kepala Sehun.
Sehun menoleh sekilas.
D.O menggeleng pelan. “Biarlah, dari pada dia marah.”
Chen mendengus.

TBC