My Love From The Exoplanet #2


Author : ohnajla
Genre : romance, fantasy, school life, friendship, supranatural, teen
Length : Series
Rating : Teen
Main Cast : Oh Sehun (EXO), Yook Ha Na (OC)
Support Cast : EXO, BTS, BTOB Sungjae
.
Sementara itu di Incheon..
Pesawat dari Washington DC baru saja tiba. Tujuh pemuda dengan pakaian serba hitam turun dari pesawat dan bergegas keluar dari bandara. Mereka sudah ditunggu oleh sebuah van hitam.
“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya sopir yang menyetir van hitam tersebut ketika ketujuh pemuda itu sudah memasuki van.
“Kenapa kami harus ke sana kalau akhirnya kami kemari?” ketus pemuda yang duduk di samping sopir. Dia melepas topi serta maskernya, di sini dia tidak perlu khawatir kalau cahaya matahari akan melukainya.
“Sebelum menuju tempat tinggal, inilah identitas kalian di sini.”

Sopir itu membagikan tujuh lembar pada tujuh pemuda itu. antara rela dengan malas ketujuh pemuda itu menerimanya.
1.)    Nama Asia : Kim Seok Jin, nama Amerika : Paul Miles, nama BTS : Jin. Status : siswa kelas 3-1 SMA Sekang.
2.)    Nama Asia : Min Yoon Gi, nama Amerika :George Ashton, nama BTS : Suga. Status : siswa kelas 3-3 SMA Sekang.
3.)    Nama Asia : Jung Ho Seok, nama Amerika : Jack Gavin, nama BTS : J-Hope. Status : siswa kelas 3-3 SMA Sekang.
4.)    Nama Asia : Kim Nam Joon, nama Amerika : Peter Shane, nama BTS : Rap Moster. Status : siswa kelas 3-1 SMA Sekang.
5.)    Nama Asia : Park Ji Min, nama Amerika : Andi Rafael, nama BTS : Jimin. Status : siswa kelas 2-1 SMA Sekang.
6.)    Nama Asia : Kim Tae Hyung, nama Amerika : Zion Victor, nama BTS : V. status : siswa kelas 2-1 SMA Sekang.
7.)    Nama Asia : Jeon Jung Kook, nama Amerika : Fabian Zander, nama BTS : Jungkook. Status : siswa kelas 2-1 SMA Sekang
“Apa maksudnya ini?” tanya pemuda nomor 4 alias Rap Monster. Dia masih mencerna nama-nama barunya di kertas itu sekaligus statusnya.
Mobil telah berjalan. Sopir menjawab di sela-sela konsentrasinya. “Mulai besok kalian akan bersekolah di sana.”
“Kau bilang mereka berada di kelas yang sama, kan? Kenapa kami harus terpisah seperti ini?” tanya pemuda nomor 7, Jungkook. Dia lah yang duduk di sebelah sopir.
“Kelas itu sudah tidak bisa diisi murid lagi. Hanya tersisa tiga kuota untuk ditempati.”
“Ah.. jadi mereka ada di kelasku,” gumam V sambil menyeringai. Dia merasa puas telah mendapatkan tempat yang sangat memudahkannya nanti.
“Apa kepentingan dari nama Amerika yang kau berikan? Kau terlambat memberikannya,” ucap Jin sambil melipat kertasnya dan dimasukkan dalam saku jaket.
“Kupikir kau akan menuliskan apa kekuatan kami,” timpal J-Hope yang juga melakukan hal yang sama seperti Jin.
“Kalian akan tahu dengan sendirinya. Yang pasti kalian adalah Bangtan Sonyeondan, Bulletproof Boy Scout.”
“Ya ya ya,” balas Suga malas. Dia sudah bersiap tidur, entah dari mana dia tahu kalau perjalanan ini akan memakan waktu lama.
“Eum.. berarti besok pergi ke sekolah. Kira-kira aku harus berdandan bagaimana?” gumam Jimin sambil membolak-balikkan majalah fashion yang dia ambil dari tumpukan majalah di dekatnya.
“Ngomong-ngomong, seperti apa mereka di sekolah? Kudengar mereka bisa kemari karena salah satu dari mereka telah menikah. Huh, lucu sekali,” ucap Jungkook.
“Kurasa diantara kalian tidak ada yang bisa membaca pikiran orang lain. Berhati-hatilah pada satu orang di antara mereka. Dia memiliki kekuatan berharga itu,” balas sang sopir.
Dahi Jungkook berkerut. “Itu sudah lebih dari berbahaya. Apakah pengendali waktu dan teleporter ada diantara mereka?”
“Eoh. mereka berkumpul menjadi satu di kelas yang akan kau tempati.”
“Lalu yang menikah? Apa yang dia miliki?” kini V mulai berkicau. Dia sejak tadi mendengarkan percakapan antara sopir dan Jungkook.
“Sejauh ini aku tidak bisa mengetahui pasti apa yang dia miliki.”
Dahi Jungkook berkerut semakin dalam. “Wae-yo? Apa dia jauh lebih berbahaya dari yang lain?”
“Bisa jadi seperti itu. pernikahan dengan manusia membuat makhluk sepertinya semakin kuat, dan mungkin dia akan menghasilkan banyak kekuatan dan kemampuan. Dia member termuda sepertimu.”
“Apa gadis yang dia nikahi berada di kelas itu?” tanya V.
“Eoh. Namanya Yook Ha Na. Dia anak kedua dari pengusaha Asia Yook Jae Ho. Dia memiliki seorang kakak lelaki bernama Yook Sung Jae, yang sekarang ada di kelas 3-1. Yook bersaudara adalah pewaris dari perusahaan Angelo. Tapi semenjak Hana menikah dengan maknae EXO, hak kewarisannya dihentikan. Gadis itu bahkan dihapus dari daftar nama keluarga karena telah membuat keluarganya marah. Sekarang Hana tinggal di rumah milik EXO yang tidak jauh letaknya dari SMA Sekang. Kalau diandaikan, Yook Hana adalah versi perempuan dari EXO. Dia sangat cantik, tinggi badannya 168 cm, otaknya brilian dan nilai etikanya bagus. Dari analisisku, aku menemukan delapanbelas aura di tubuhnya. Kalau ditanya apa dia berbahaya, ya dia sangat berbahaya. Bahkan jauh lebih berbahaya dari si telekinesis, pengendali waktu, teleporter bahkan suaminya. Aku menemukan ada sesuatu yang menakjubkan di dalam dirinya.”
**
Dalam satu minggu ini rasa cinta Hana pada Sehun semakin jelas. Gadis itu benar-benar mencintai Sehun, dalam artian menerima Sehun apa adanya. Meski dia berulang kali diceramahi oleh penguasa Exoplanet bahwa Sehun bisa saja lenyap bila EXO kalah dalam pertarungan. Tapi Hana yakin, Sehun adalah satu-satunya lelaki yang akan menjadi cintanya.
Istirahat sekolah, sebelas member memilih pergi ke kantin untuk makan, sedangkan Hana memilih menemani Sehun di halaman belakang sekolah.
Sehun membuka mata setelah lima menit tidur. “Kenapa di sini?”
Hana tersenyum. “Aku ingin menemanimu.”
Sehun menatap Hana intens. Saat itulah rambutnya berubah menjadi merah menyala. Ia pun membuang pandangan kita Hana melepaskan topinya.
“Tidak perlu ditutup-tutupi, Oh Sehun. Tanpa kau bicara pun, aku sudah tahu emosimu dari perubahan warna rambutmu.”
“Lagi pula siapa yang menyuruhku pakai topi?”
Hana tertawa, dia baru tahu kalau ternyata Sehun si hati batu itu bisa sewot juga. “Iya iya. Maksudku hanya padaku. Kalau bersamaku, kau harus mengatakan padaku apa yang sedang kau rasakan sekarang. Dengan begitu aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Warna rambut Sehun berubah menjadi merah mengkilat. “Aku sendiri tidak tahu apa yang tengah kurasakan.”
Hana mengusap rambut Sehun dengan lembut. Dia tersenyum melihat pupil mata Sehun yang membesar. “Boleh kutanya sesuatu?”
“Eoh.”
“Apa yang membuatmu menjauh saat aku mendekatimu? Seminggu lalu.”
“Aku takut padamu.”
Hana tersenyum. “Lalu setelah itu, saat aku meraih tanganmu, kenapa kau diam saja ketika kutarik?”
Kepala Sehun tertunduk. “Aku tidak tahu. Yang kutahu saat itu, aku bisa merasakan apa itu hangat, untuk pertama kalinya.”
Hana terdiam. Dia memandang sosok tampan di hadapannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Suatu perasaan sedang berkecamuk di hatinya.
Tangan Hana beralih ke pipi Sehun. “Kau merasa hangat dengan ini?”
Kepala Sehun terangkat sedikit hingga matanya bisa menatap kedua mata Hana. “Eoh.”
Hana pun menarik Sehun ke pelukannya. “Itulah yang ingin kutahu selama ini, Oh Sehun. Jika kau tidak mengungkapkannya seperti tadi, aku tidak akan tahu apa yang kau butuhkan dariku.”
“Kenapa kau harus tahu?”
“Karena aku istrimu, pendamping hidupmu.”
“Pendamping?”
“Ne. Apapun yang terjadi padamu, tidak akan mengubah perasaanku terhadapmu.”
Sehun terdiam. Pandangannya sedang asik menelisik rambut Hana, namun sebenarnya dia tidak focus pada itu. mungkin benar kata Luhan, dia tidak berpikir dengan otaknya, tapi dengan rambutnya. Buktinya sekarang rambutnya berwarna pelangi.
“Aku tidak tahu apa perasaanku padamu,” lirih Sehun. Untuk kali ini dia bisa bimbang, bisa juga lemah.
Hana mengelus rambut Sehun dengan lembut, dia berusaha menyalurkan ketenangan meski hal itu tidak bisa membuat Sehun tenang seketika. Semakin banyak warna di rambut Sehun sekarang, semakin tinggi pula tingkat bimbangnya.
“Luhan saja tidak bisa membaca pikiranmu. Sejak awal melihatmu, aku sudah bisa membaca pikiranmu karena satu kemampuan unik yang kau miliki, merubah warna rambut.”
Sehun membalas pelukan itu dengan lebih erat. “Andai kemampuan itu tidak kumiliki, bagaimana caramu membaca pikiranku?”
“Aku tidak tahu. Tapi kurasa, penciptamu pasti akan memberikan kemudahan untukku dalam membaca suasana hati dan pikiranmu.”
“Ajari aku caranya, Oh Hana.”
Hana tersenyum. kupu-kupu serasa beterbangan di perutnya ketika Sehun menyebutnya dengan nama lengkap. “Keureom, aku akan mengajarimu.”
“Berapa usiamu?”
“Oh? Eum… enambelas.”
Sehun meletakkan dagunya di bahu Hana. “Berapa jarak usia kita? Kau hanya memanggilku Oh Sehun? Bukan kakek moyang?”
Hana tertawa mendengarnya. “Yaa, tidak ada frasa kakek moyang di dunia ini. Laki-laki atau perempuan, penyebutannya tetap nenek moyang. Gwaenchanha Oh Sehun. Kau akan tetap terlihat muda bahkan sampai usia jutaan tahun. Beda lagi denganku, aku hanya cantik di usia belasan sampai empatpuluh saja.”
“Cantik? Apakah kata yang mendeskripsikanmu adalah cantik?”
“Yaa! kau sedang menghinaku?”
“Ani, aku hanya tidak tahu definisi dari cantik dan batas cantik itu sendiri.”
Hana menghela napas. “Ah aku baru sadar. Selama duaratus limapuluh tahun hidupmu, aku yakin kau tidak pernah bertemu dengan wanita. Aku seorang wanita, fisik wanita dan laki-laki berbeda. Perasaan keduanya juga bertolak belakang. Aku, tidak suka dengan kekerasan, tapi laki-laki sepertimu, selalu melakukan kekerasan suka atau tidak.”
“Apakah aku pernah melakukannya padamu?”
Hana menggeleng. “Selama pertemuan kita, aku merasa sangat tenang dan aman.”
Sehun mengeratkan pelukannya. “Lalu?”
“Jiwa lelaki keras, sedangkan perempuan lembut.”
“Lalu definisi dari cantik?”
“Cantik adalah penilaian semua orang entah lelaki atau perempuan berdasarkan pesona dari seorang perempuan. Penilaian satu orang dengan orang lain tentu berbeda, itulah mengapa cantik itu relative.”
“Tidak ada yang lebih cantik darimu.”
Hana terkekeh. Tapi detik berikutnya dia tercengang, warna rambut Sehun berubah merah muda. “Be-benarkah?”
“Eoh. Kau cantik sekali. Kau hangat, lembut dan sempurna.”
“Oh Sehun..”
Sehun menegapkan tubuhnya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Hana. Ekspresinya tetap sama, datar dan dingin. Tapi warna rambut dan lebar pupil matanya membuat Hana tidak berhenti terkejut.
“Apakah warna rambutku berubah?”
“Eoh. warnanya.. merah muda.”
Sehun perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak wajah mereka kian lama kian menipis. Mereka sampai harus berebut oksigen dari jarak yang begitu dekat ini. Sampai akhirnya, bibir Sehun mendarat di bibir Hana. Untuk pertama kalinya, dari 250 tahun hidup Sehun dan 16 tahun hidup Hana mereka merasakan sengatan listrik yang berasal dari sentuhan tersebut.
Sepuluh detik kemudian Sehun menjauhkan wajahnya. “Apakah kau merasakan darah?”
Hana menggeleng sambil tersenyum.
Sehun menghela napas. “Syukurlah.”
Tiba-tiba Hana menangkup pipi Sehun dan menarik kedua ujung bibir Sehun ke atas. “Cobalah tersenyum, Oh Sehun.”
Sehun spontan menangkap kedua pergelangan tangan Hana. Dia menggeleng.
“Wae-yo?”
Sehun memperlihatkan sederet giginya. Dua taring bagian atas jauh lebih panjang dari gigi yang lain. “Bibirku akan terluka jika aku tersenyum. Dan mereka akan tahu kalau aku adalah vampire.”
“Kalau begitu cobalah tersenyum dengan sedikit membuka bibirmu. Seperti ini.”
Sehun mengikuti seperti yang dilakukan Hana. Awalnya dia merasa pipinya terasa kaku, namun karena tatapan Hana, perlahan pipinya tidak terasa kaku lagi.
Gadis itu tersenyum melihat bagaimana usaha Sehun untuk tersenyum. Dia menangkup pipi pemuda itu dan menatapnya dalam. “Kau terlihat jauh lebih tampan jika tersenyum, Oh Sehun.”
“Jinjja?”
Hana mengangguk. “Cobalah untuk sedikit memejamkan matamu saat tersenyum.”
Sehun berusaha tersenyum lagi tapi kini dengan mata sedikit terpejam. Meskipun penyebutanya sedikit terpejam, tetap saja kedua matanya akan terpejam karena ukuran matanya yang kecil.
Hana tergelak melihatnya. Bagi Hana, Sehun terlihat lucu seperti bayi. “Kyeopta..”
CHUP!
Bukan Hana yang melakukannya, tapi Sehun.
“Oh Sehun..”
“Oh Hana..”
Mereka berpandangan sebentar sebelum Sehun menarik Hana yang tertawa ke dalam pelukannya. Keduanya tidak sadar kalau Sehun sekarang bisa tersenyum dan sebelas member EXO sedang melihat mereka dari jauh.
“Romantisnya,” gumam Baekhyun.
Kai tersenyum. “Uri maknae sudah dewasa, kah?”
“Yook Hana benar-benar hebat. Dia bisa membuat si hati batu itu tersenyum,” ucap Chanyeol.
Luhan tersenyum puas. “Hana mencintai Sehun dengan tulus, itulah yang kubaca dari pikirannya.”
“Kurasa energy Sehun bertambah. Kita lihat nanti, apakah dia akan berubah menjadi ksatria di medan perang atau tidak,” kata Suho.
**
Sehun dan Hana sedang asyik bercanda di kamar mereka. Tiba-tiba, telinga Sehun berdengung sampai dia mengerang kesakitan. Hana yang melihatnya mulai panic. Dia meraih kepala Sehun kemudian disandarkan di bahunya.
“Argh!!”
Suara yang sama juga didengarnya dari luar kamar mereka. Hana mengenal suara itu sebagai suara Baekhyun, Chen dan Xiumin. Dahinya berkerut heran. Hanya EXO yang bisa mendengar itu sedangkan dirinya tidak.
Namun detik berikutnya waktu berhenti. Semua ikut diberhentikan kecuali EXO serta dirinya. Sehun tidak lagi mengerang seperti tadi, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari sejauh sepuluh kilometer.
Dari kaca rias yang ada di hadapan Hana, terlihat sebuah tulisan berwarna hitam yang tiba-tiba muncul.
Perang akan dimulai. EXO, persiapkan diri kalian dengan baik. Kalian akan bertemu sang penghacur bumi besok. Mulailah berkoordinasi. Lindungi Yook Hana dengan baik.
“Sehun, penghancur bumi yang dimaksud itu siapa?”
Sehun masih memandang cermin itu dengan tatapan lurus. “Besok kita akan tahu siapa mereka.”
Dahi Hana berkerut tidak mengerti. Tulisan itu menghilang tepat di saat waktu kembali berjalan. Tapi, dia mulai takut kalau memang besok dia dan EXO akan bertemu mereka. Hana pikir ‘penghancur bumi’ itu akan datang beberapa tahun lagi, tapi ternyata jauh lebih cepat dari perkiraannya.
“Aku takut, Sehun,” gumam Hana sambil menahan air matanya. Dia mencengkram erat baju Sehun hingga kuku-kukunya memutih.
Sehun merengkuh gadis itu jauh lebih erat. “Aku akan menjagamu. Geokjeongma.”
Isakan mulai terdengar dari bibir tipis Hana. Dia menangis sekencang-kencangnya. Sejujurnya, dia juga tidak mengerti kenapa perasaannya bisa sebegini sedihnya. Bukan hanya perkara siapa yang akan ditemuinya besok, tapi ada sesuatu yang membuat perasaannya berubah.
“Sehun.. hiks, kenapa aku tiba-tiba menangis?”
Dahi Sehun berkerut. “Bukankah kau takut?”
Hana menggeleng. “Di saat takut aku tidak bisa menangis, Sehun.”
Sehun terdiam. Pandangannya menerawang ke luar jendela yang sedang terbuka. Ini bukan hanya perasaannya saja, tapi suasana malam hari di luar terlihat lebih pekat dari biasanya.
“Mereka pasti ada di sekitar kita.”
Hana menenggelamkan wajahnya di dada Sehun. “Eotteohke? Hiks.. apakah ini berbahaya, Sehun?”
Rambut Sehun berubah menjadi dark khaki tanda kalau dia sedang waspada. “Aku juga tidak tahu pasti. Mereka sangat dekat, tapi mereka tidak tahu di mana kita. Kau tidak bisa melacak posisi mereka sekarang?”
“Aku sendiri tidak tahu apa kemampuanku.. hiks. Satu-satunya yang kutahu adalah menganalisis kalian, selebihnya aku tidak tahu.”
“Nado, aku pun tidak tahu pasti apa kekuatanku. Tidak bisakah kau menganalisisku sekarang?”
Hana menggeleng. “Aku hanya menemukan fakta kalau kau adalah si pengontrol udara, bisa merubah warna rambut dan mengeluarkan aroma tubuh sesuai suasana hati, dan membuat bayangan. Lainnya, yang kulihat hanyalah sederet tanda tanya. Tapi, hiks. Kemampuan yang tidak bisa kulihat ada limabelas di tubuhmu. Sampai sekarang aku tidak tahu apa saja itu.”
Sehun mengangguk mengerti. “Aku yang akan mencari tahu.”
“Oh Sehun! Hiks, kenapa perasaanku bertambah sakit?!! Jeongmal appa-yo..”
Rambut Sehun berubah pelangi. Dia bingung harus berbuat apa kalau melihat Hana menangis seperti ini. Apalagi tangisannya semakin keras.
“Oh Sehun!!!”
Sehun memejamkan mata, memaksa dirinya untuk berbuat sesuatu yang sekiranya bisa menenangkan Hana. Dia harus berbuat sesuatu kalau tidak mau melihat Hana menderita.
Dengan spontan, tangan Sehun menepuk punggung Hana satu kali dan sebuah keajaiban terjadi. Ketika Sehun membuka mata, dia tidak lagi melihat kamarnya, melainkan melihat banyak dinding tinggi yang menjulang tanpa batas. Dinding-dinding itu berwarna putih, akan tetapi terlihat gelap karena tidak adanya pencahayaan. Sehun melangkah hati-hati menyusuri jalan yang dipijak ini melewati dinding-dinding putih itu. Dia sudah berulang kali terjebak dengan banyaknya persimpangan. Namun, dia memilih untuk terus berjalan ke sisi kanan.
Tak lama berjalan, terdengar suara teriakan perempuan. Dia semakin mempercepat langkahnya hingga berhenti di suatu tempat. Di sana, gadis berambut panjang dengan terusan putih dan sepasang sayap, sedang terjebak oleh dua rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya di dinding. Teriakan itu terdengar jelas, lantaran ada dua bayangan hitam dengan kecepatan tinggi tengah menyiksa gadis itu dari berbagai sisi. Bayangan itu bukan sedang mengincar gadis tersebut, melainkan sebuah lambang putih bervibrasi yang menempel tepat di belakang gadis itu.
Sehun terkesiap ketika tahu bahwa gadis itu adalah Yook Ha Na.
Tidak hanya rambutnya yang berubah, iris mata dan taringnya juga berubah. Rambutnya menjadi merah maroon, iris matanya berubah menjadi merah menyala, taringnya memanjang hingga terlihat keluar dari bibirnya dan bagian leher serta wajahnya terbentuk sebuah gambar berwarna hitam berbentuk seperti batang tumbuhan menjalar.
Hatinya hanya mengenal Hana, untuk itu dia akan melakukan apapun untuk gadis tersebut.
Dengan kemampuannya, dia mengeluarkan satu bayangannya. Berdua dengan replikanya, dia berkolaborasi melawan bayangan hitam itu dengan kecepatan jauh lebih tinggi. Dia mengayunkan Death Sword yang terbentuk otomatis di tangan kanannya pada bayangan hitam itu. Anehnya, di saat Sehun serta bayangannya berhasil menebas kedua bayangan hitam itu, dari kedua bayangan hitam tersebut terbentuklah dua manusia yang juga berkemampuan sama seperti Sehun. Satu asli dan satu lagi replika. Manusia yang muncul itu adalah seorang laki-laki dengan topeng yang hanya memperlihatkan mata kirinya.
Mereka pun bertarung di sana. Asli melawan yang asli dan replika melawan yang replika. Sehun semakin ganas mengayunkan pedangnya. Dia terus menyerang tanpa peduli seberapa kuatnya perlindungan dari si mata satu itu. Makin lama, energinya makin bertambah begitu juga dengan kemampuan pedangnya yang sukses menghancurkan perlindungan mata satu itu. Akhirnya dengan satu tebasan, dia dan bayangannya sanggup melenyapkan dua orang tersebut.
Bayangannya kembali dalam tubuhnya. Pedangnya pun perlahan menghilang di balik kain lengan tuxedonya. Taringnya kembali ke bentuk semula, begitu juga dengan iris mata serta rambut yang berwarna hitam.
Dia dan gadis bersayap itu saling menatap satu sama lain. Dengan energy yang tiba-tiba terkuras habis, dia menyeret kakinya untuk mendekat dan meraih gadis itu dalam pelukannya. Seketika itu jua, rantai yang memenjara tangan serta kaki gadis tersebut hilang dan juga tempat yang semula gelap dan penuh liku seperti labirin ini berubah menjadi padang rumput yang tenang.
Gadis bersayap itu balas memeluknya. “Gomawo, Oh Sehun.”
“Ne.”
Di saat Sehun membuka matanya, dia melihat kembali ruang kamarnya.
“Sehun? Sehun?”
Sehun menunduk untuk melihat gadis yang tengah direngkuhnya. Melihat wajah Hana yang sudah tidak menangis lagi, membuatnya tersenyum. “Ne?”
“Aku sudah tidak menangis lagi. Aneh ya?”
Sehun mengusap rambut Hana dengan lembut. “Itu bagus. Perasaanmu sudahkah lebih baik?”
Hana mengangguk. “Eoh, itu terjadi dengan tiba-tiba.”
Sehun mengecup pipi Hana. “Baguslah, Hana.”
Hana pun tersenyum. Detik berikutnya, ekspresinya berubah kala melihat wajah Sehun. “Ada apa denganmu? Kenapa bibirmu pucat? Kenapa ada keringat di dahimu?”
Sehun mengusap dahinya dengan tangan. “Ah.. aku juga tidak tahu.”
Rambutnya tiba-tiba berubah warna menjadi biru dongker. Melihat perubahan warna itu, Hana mendengus sebal. “Gotjimal.”
Sehun terkesiap mendengarnya. Dia langsung membuang pandangan yang diikuti dengan perubahan warna rambutnya menjadi pelangi. “A-ani.. aku memang tidak tahu.”
Hana menarik hidung Sehun dengan gemas. “Akan kukutuk kau menjadi pinokio jika kau tetap berbohong seperti itu.”
Bibir Sehun mengerucut. Rambutnya berubah menjadi warna putih. “Keurae, aku sebenarnya lelah. Tapi alasannya, aku tidak mau mengatakannya padamu.”
“Wae?? Kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku?”
Rambut Sehun berubah menjadi pelangi. “Ini.. ini.. ini rahasia. Tidak lucu kan kalau aku mengatakan rahasiaku?”
Hana memperhatikan Sehun dengan dalam. “Rahasia?”
Sehun mengangguk dengan kepala tertunduk.
Melihat Sehun seperti ini, Hana menjadi tidak tega sendiri. Dia tidak tahu alasan kenapa Sehun begini tapi Hana yakin kalau Sehun merahasiakan ini bukan karena itu berita buruk. Hana pikir, mungkin Sehun ingin memberitahunya lain waktu sebagai sebuah kejutan.
“Keurae..” ucap Hana sambil mengelus rambut Sehun.
“Kau mau makan tidak?” lanjut Hana.
Sehun mengangkat kepalanya kemudian mengangguk semangat. Rambutnya telah berubah menjadi hitam.
Hana tersenyum, “ja!”
**
Esoknya, Hana beserta EXO memulai kehidupan mereka seperti biasa. Namun kali ini, EXO jauh lebih waspada. Di balik topinya, rambut Sehun bahkan berwarna dark khaki. Tangannya menggenggam erat tangan Hana serta matanya tidak berhenti bergerak.
“Bagaimana cara mendeteksi mereka?” gumam Kris yang berdiri tepat di sebelah Hana.
“Perasaan,” balas Hana spontan.
Kris menoleh padanya. “Maksudmu?”
“Akan ada perasaan aneh jika mereka ada di sekitar kita,” balas Hana dengan pandangan lurus ke depan. “Kemarin aku merasakannya.”
Kris hanya mengangguk. Dia kembali memantau sekitar menggunakan kuasa tinggi tubuhnya.
“Aish, kakiku pegal,” keluh Kai yang berjalan tepat di belakang Hana. Dia memang tidak terbiasa berjalan seperti ini, karena dia selalu menggunakan kemampuannya yang serba instan.
“Kalau kau mau menghadapinya sendiri, gunakan saja kekuatanmu sekarang,” bisik Chanyeol yang berjalan di sampingnya. Kai sedikit terlonjak ketika napas Chanyeol mengenai telinganya. Napas Chanyeol jauh lebih panas dari napas biasanya.
“Kau bisa membakar telingaku, hyung,” desis Kai sambil mengusap telinganya.
“Itu di luar kehendakku, babo,” balas Chanyeol tidak mau kalah.
“Yaa yaa! Aku mendengar suara teriakan para gadis,” seru Baekhyun tiba-tiba. Dia yang semula menyedot perhatian seluruh member EXO, kini malah diacuhkan.
“Itu bukan topic sebenarnya, Baek,” ketus D.O.
“Jangan bercanda di saat seperti ini,” sambung Xiumin.
Baekhyun mengerang. “Aku tidak sedang bercanda. Para gadis itu meneriaki orang baru.”
Akhirnya dia sukses membuat kerumunan ini berhenti berjalan.
“Orang baru? Cepat katakan apa saja yang mereka bicarakan,” ucap Suho.
“Suaranya terlalu banyak jadi ini membuatku pusing. Yang pasti aku bisa mendengar beberapa gadis menyebutkan nama dari mereka. Jeon Jung Kook. Kim Tae Hyung. Min Yoon Gi. Kim Seok Jin. Kim Nam Joon. Park Ji Min. Jung Ho Seok.”
Sebelas member EXO termasuk Hana, terdiam mendengar ucapan Baekhyun.
“Hanya tujuh?” tanya Hana tiba-tiba.
Baekhyun mengangguk. “Ada gadis yang sempat menghitung mereka.”
“Aneh, totalnya justru lebih sedikit dari kita,” ucap Lay yang selama ini memang jarang sekali terdengar suaranya.
Sehun menarik Hana untuk kembali berjalan. “Sebentar lagi bel masuk.”
Yang lain akhirnya mengikuti kemana Sehun dan Hana pergi.
“Sehun?”
“Hm?”
“Aku takut.”
Sehun menoleh. Dia mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Hana untuk mencium punggung tangan gadis itu. “Kau akan baik-baik saja. Bersikaplah seperti biasanya.”
Meski tak yakin, Hana tetap mengangguk.
**
Kelas 2-1…
Usai bel masuk berbunyi, seorang guru memasuki kelas diikuti tiga orang siswa asing. Pandangan EXO langsung menyorot tajam, terkecuali Sehun yang terlihat biasa saja. Begitu pun dengan ketiga siswa asing tersebut.
Ketua kelas mengomando seluruh siswa untuk mengucapkan selamat pagi pada seonsaengnim. Setelah itu barulah guru itu memperkenalkan tiga murid asing yang ada di sebelahnya.
“Hari ini kalian kedatangan murid baru. Mereka adalah Park Ji Min (Jimin membungkuk 90 derajat penuh), Jeon Jung Kook (Jungkook membungkuk 45 derajat) dan Kim Tae Hyung (Taehyung hanya menunduk sesaat). Mereka akan menjadi teman kalian sampai semester depan. Jadi bertemanlah dengan baik, arraseo?”
“Ne, saem,” balas seluruh murid dengan kompak kecuali EXO.
“Kalian bertiga, duduklah.”
Ada tiga kursi kosong yang tersisa. Dua kursi berada dalam satu meja yang sama di sudut yang jauh dari deretan EXO, sedangkan satu kursi lagi ada tepat di sebelah Luhan. Jimin menarik tangan Jungkook untuk duduk dengannya di satu bangku, jadi kursi di sebelah Luhan, ditempati oleh Kim Tae Hyung.
Di saat menuju kursinya, pandangan Taehyung tidak lepas dari Hana. Sorot matanya yang tajam membuat Hana langsung membuang pandangan, itu membuat Sehun membalas tatapan Taehyung yang telah menakuti Hana-nya. Di saat mereka beradu pandang, Sehun seakan mengenali tatapan itu. Tatapan yang dilihatnya saat memasuki hati Hana.
“Baiklah. Hari ini kita akan membahas materi tentang larutan buffer. Hanjang, tolong ambilkan indicator pH di laboratorium kimia.”
Taehyung duduk tenang di bangkunya, begitu juga dengan Jungkook dan Jimin. Ketiganya bahkan mengeluarkan alat-alat tulis layaknya haksaeng biasa.
Taehyung duduk di sebelahnya, Luhan tidak peduli. Dia tetap asyik memainkan rubiknya di bawah meja. Toh dia sanggup membaca apa yang ada di pikiran ketiga murid baru itu tanpa melihat matanya.
“Apakah orang sebelahku adalah EXO? Kalau bukan, kenapa dia tidak focus pelajaran?”
Luhan berhasil menyelesaikan satu rubik berbentuk piramida. Dia meletakkan rubik itu di laci kemudian mengambil rubik lain dari dalam tas.
“Dia mungkin bukan EXO. Harusnya kalau dia EXO, dia tidak setenang ini.”
Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berpura-pura terlihat bingung saat memainkan rubik berbentuk chromoball. Dan seolah merasa dipandangi, Luhan menoleh ke samping.
“Wae?” tanyanya dengan mata membesar.
Taehyung tersenyum miring kemudian menggeleng. “Kau punya banyak benda seperti itu?”
Luhan mengangguk. “Eoh. kau mau mencobanya?”
Taehyung menggeleng. “Ani-yo, aku tidak bisa memainkannya.”
“Kau tidak akan pernah bisa jika tidak mencoba,” balas Luhan sambil tersenyum. pemuda berwajah imut itu kembali memainkan rubiknya dengan tenang.
“Yaa, kenapa Taehyung berbicara dengan orang lain? Dia sudah gila?” bisik Jimin pada Jungkook.
Baekhyun yang mendengarnya, berpura-pura sibuk menyalin catatan di papan tulis. Tapi sebenarnya, dia sedang menuliskan kode pada Chanyeol.
Sepertinya yang dimaksud Jimin adalah Luhan. Bersikaplah tenang seperti Luhan hyung.
Chanyeol hanya mengangguk. Padahal dia sebenarnya sudah ingin membakar kelas ini begitu melihat wajah musuh mereka.
“Bukan Taehyung namanya kalau dia tidak gila,” balas Jungkook enteng.
“Semuanya sudah selesai mencatat?”
“Sudah, saem.”
Taehyung melirik meja Luhan yang tidak ada apa-apanya. “Kau tidak mencatat?”
Luhan menoleh. “Memang kenapa?”
“Tulisan di papan akan dihapus oleh seonsaengnim,” ucap Taehyung sambil mendorong dagunya ke depan.
Luhan melirik papan sekilas. “Ah.. semuanya beres di tangan Kyungsoo. Kyung!”
D.O menoleh. “Mwo?”
“Kau sudah selesai mencatatkan punyaku, kan?”
“Aku tidak mengerti maksudmu, hyung. Mencatatkan apa?”
“Ah! kau ini! Aku kan memintamu untuk mencatatkan punyaku,” bola mata Luhan membesar sedikit untuk memberikan kode pada Kyungsoo.
“Eoh, hanya perlu menyalinnya dari catatanku. Kidaryeo.”
Luhan mengangguk sambil menunjukkan ibu jarinya.
“Namanya Kyungsoo?” tanya Taehyung.
Luhan mengangguk. “Do Kyungsoo. Ah, kau kan belum mengenal semua siswa di sini. Bagaimana kalau kuperkenalkan satu persatu?”
Taehyung mengangguk semangat. “Mungkin dengan begini aku tahu yang mana EXO.”
“Keurae, dimulai dariku. Wǒ de míngzì shì Lǔ Hàn.”
Dahi Taehyung berkerut bingung, Luhan tersenyum. “Namaku Luhan. Asalku dari Haidian, Beijing.”
Baru Taehyung mengerti dan kepalanya mengangguk.
“Di depanku ini, Huang Zi Tao, dia berkewarganegaraan sama sepertiku, bedanya dia dari Qingdao. Lalu di depanmu, ada Kim Jong In, dia itu memang sudah asli Seoul.”
“Kau dan Huang Zi Tao, kenapa ada di Korea?”
Luhan angkat bahu. “Aku sudah sejak kecil di sini. Kalau Tao, Yixing dan Yifan, aku tidak tahu.”
“Yixing? Yifan?”
Luhan mengangguk. “Zhang Yixing, dia duduk dibangku nomor dua deretanku. Asalnya dari Changsa. Sedangkan Yifan yang duduk di paling depan deretanmu, asalnya dari Guangzhou.”
“Ah.. begitu. Ternyata ada empat orang yang China. Apakah kalian kenal satu sama lain sebelumnya?”
“Ani. Kami baru kenal saat memasuki SMA ini.”
Taehyung mengangguk lagi. “Lalu yang lain?”
“Yang duduk di sebelah Yifan adalah Kim Joon Myeon, sama seperti Jongin, dia dari Seoul. Di sebelah Yixing, adalah Kim Min Seok asalnya dari Namyangju. Di belakang Yixing dan Minseok, ada Byun Baek Hyun si namja Bucheon, Gyeonggi dan Park Chan Yeol si namja tinggi itu asalnya dari Seoul. Lalu di belakang Chanyeol, namja berkulit pucat itu adalah Oh Sehun asalnya dari distrik Jungnang. Di sebelahnya adalah kekasihnya, Yook Ha Na…”
Taehyung terdiam seribu bahasa. “Jadi, gadis itu benar Yook Ha Na? apakah kekasih yang dimaksud namja ini adalah istri?”
“Di belakang Hana ada Kim Jong Dae asalnya dari Daejeon dan yang tadi kuajak bicara adalah Do Kyungsoo,” lanjut Luhan tanpa peduli apa yang sedang dipikirkan Taehyung.
Selain memperkenalkan semua member EXO dengan kebohongan yang dibuatnya dengan cepat, dia juga memperkenalkan siswa lain seperti hanjang, dan lain sebagainya.
“Jadi, Oh Sehun adalah maknae EXO yang menikah itu? cih, sudah kuduga. Jadi orang yang kemarin kulihat itu, dia?”
“Itulah nama-nama siswa di kelas ini. Ada yang ingin kau tanyakan, Taehyung?”
Taehyung menoleh kemudian menggeleng dan tersenyum. Namun detik berikutnya, dia terpaku melihat wajah Luhan. Entah kenapa dia seperti baru sadar kalau Luhan itu sangat tampan.
“Apakah orang ini juga EXO? Yook Ha Na, adalah versi perempuan dari EXO dan Luhan.. adalah EXO?”
“Wae?”
Taehyung menggeleng lagi. “Ani-yo. Kuperhatikan, wajahmu dan wajah Sehun mirip.”
Luhan tersenyum lebar. “Memang. Beberapa orang bahkan menganggap kami kembar.”
“Ah jinjja? Aku tidak tahu, mian.”
Luhan mengangguk.
Teng teng teng!
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Taehyung, Jimin dan Jungkook langsung pergi dari kelas itu. Sedangkan EXO, tidak beranjak seinchi pun dari tempatnya.
“Aktingmu bagus sekali, hyung,” puji Baekhyun sambil memamerkan ibu jari cantiknya.
“Yaa, mulai hari ini biasakan memanggil satu sama lain dengan nama Korea kalian. Dia mulai mencurigaiku dan Sehun sebagai EXO. Jika dia belum mencurigai kalian, jangan perlihatkan kemampuan kalian di depan mereka. arraseo?” jelas Luhan panjang lebar layaknya jenderal yang mengomando pasukannya.
“Keundae, dia sebenarnya hanya tahu kalau member EXO adalah Sehun. Mungkin pemimpin mereka telah memberikan clue tentang pernikahan antara maknae dengan Hana.”
Wajah Hana langsung memucat. “Jadi dia menatapku karena mengenalku?”
“Eoh, dia mengenalmu,” jawab Luhan. “Dan dia pun pernah bertemu Sehun.”
Kini semua mata beralih pada Sehun.
“Jinjja? Kapan kau bertemu dengannya?” tanya Suho dengan dahi berkerut.
“Baru hari ini aku bertemu secara langsung dengannya,” balas Sehun dengan nada datar.
“Jadi kau pernah bertemu secara tidak langsung?” tanya Hana.
Sehun menoleh, menatap kekasihnya dengan tatapan datar khasnya. “Eoh, dalam perasaanmu, kemarin.”
Semua terdiam, Tao sengaja mengaktifkan kemampuannya agar orang lain tidak mendengarkan mereka.
“Bagaimana caranya?” tanya Chanyeol.
“Kau sedang tidak bercanda, kan?” desis Xiumin.
“Apakah kemampuanmu telah berkembang?” pertanyaan D.O membuat yang lain terdiam.
“Amado. Kemampuan itu datang begitu saja saat Hana menangis. Aku bertarung dengan Taehyung. Dia memiliki satu kekuatan yang sama sepertiku, dia bisa membuat replika dirinya.”
“Apa yang dia lakukan di perasaan Hana?”
“Memenjara dan menyerang Hana. Tapi sebelum dia berbentuk manusia, dia berbentuk bayangan hitam yang bergerak dengan kecepatan tinggi.”
Hana meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat. “Jadi kau kelelahan kemarin karena itu?”
Sehun mengangguk.
Tao menyudahi kekuatannya. “Sebenarnya, kita bisa membunuh mereka sekarang. Tapi menurutku, akan terasa membosankan kalau seperti itu.”
“Bagaimana kalau kita bagi tim menjadi dua. Tim satu beranggotakan tujuh, sedangkan tim dua beranggotakan lima?” usul Kai.
“Kenapa harus begitu?” sanggah Chen.
“Ini taktik. Tim satu yang bertugas menyerang sedangkan tim dua bertugas menjaga Hana.”
“Aku akan masuk tim dua,” ucap Sehun tiba-tiba.
“Yaa. tidak bisa begitu. Kau sudah terdeteksi dan si Taehyung itu sudah pasti menyebarkannya ke yang lain. Kau harus ada di tim satu,” ucap Kai serius.
“Tapi aku ingin menjaganya sendiri,” Sehun tetap bersikeras dengan kemauannya.
“Tidak bisa. Kau harus di tim satu,” Kai juga tidak mau kalah.
“Yaa yaa! bisakah kalian diam? Aku sudah membaginya dan ini tidak bisa diganggu gugat. Baekhyun, Chanyeol, Xiumin, Suho, D.O, Chen dan Sehun di tim satu. Aku, Kai, Tao, Kris, Lay, di tim dua,” ucap Luhan yang langsung menengahi mereka.
“Wae? Kenapa aku harus di tim satu?” tanya Sehun dengan ekspresi tidak terima.
“Karena kau sudah terdeteksi. Dan kau lah satu-satunya yang pantas melawan Taehyung.
Sehun ingin protes lagi tapi sentuhan Hana di pipinya membuatnya menoleh. Gadis itu tersenyum begitu manis hingga Sehun tidak bisa berpaling darinya. “Gwaenchanha, Oh Sehun. Kau tetap bisa menjagaku dengan jalan itu. Kalau energimu habis, kau bisa datang padaku dan aku yang akan membuat energimu kembali. Arraseo?”
Rambut Sehun berubah putih. “Eoh, arraseo.”
“Kalian mengerti dengan taktik ini bukan. Tetaplah berakting seolah manusia sampai kita lihat sendiri siapa saja empat lainnya.”
Semuanya mengangguk.
**
Untuk menghindari kecurigaan BTS, mereka sengaja tidak pulang bersamaan. Luhan dan tiga Chinese lainnya, memilih pergi ke game center. Baekhyun, Chanyeol dan Chen sepakat pergi berbelanja ke Myeongdong. Suho dan Xiumin pergi ke gym. Sementara Lay dan D.O pergi ke rumah. Lain dengan Sehun dan Hana, mereka sepakat untuk pergi berkencan. Tidak ada salahnya bukan, berkencan sepulang sekolah di kota Seoul?
“Akhirnya kita berkencan,” sorak Hana dengan riang. Dia memeluk erat lengan Sehun dan melakukan beberapa tingkah manis.
Sehun tersenyum melihat reaksi kekasihnya. “Kau kelihatannya senang sekali.”
“Tentu saja. Enam belas tahun hidupku, baru kali ini aku berkencan.”
“Jadi ini juga pertama kali untukku? aku bahkan dari dua setengah abad hidupku.”
Hana tertawa mendengarnya. “Itu menyedihkan sekali Oh Sehun..”
“Eum.. kita pergi ke mana?”
“Bagaimana kalau ke Namsan Tower?”
Sehun menatap kekasihnya bingung. “Buat apa pergi ke menara? Mau berburu beruang?”
Bibir Hana mengerucut. “Yaa, Namsan itu bukan seperti mercusuar. Dari sana kita bisa melihat kota Seoul. Kujamin kau pasti suka.”
“Jinjja? Apakah di sana menyenangkan?”
Hana mengangguk. “Kita bisa menuliskan harapan pada gembok dan menguncinya di sana. Konon katanya, harapan yang ada di sana pasti terkabul.”
“Kedengarannya bagus. Di mana tempatnya? Apakah masih jauh dari sini?” Sehun mulai melihat sekitar berharap terlihat sebuah menara yang dimaksud Hana.
“Masih cukup jauh. Kita harus naik bus dulu,” ucap Hana seraya menarik Sehun menuju halte di mana sebuah bus baru saja berhenti. Hana menggunakan kartunya sebanyak dua kali kemudian menarik Sehun ke dua tempat duduk yang bersebelahan.
“Ini yang namanya bus?” bisik Sehun sambil mengedarkan pandangan.
Hana mengangguk. “Eoh. Ini adalah bus. Dengan ini kita bisa pergi ke suatu tempat dengan lebih cepat dan tidak melelahkan.”
“Ah.. algeuseummida.”
Hana merebahkan kepalanya di bahu Sehun. Dia benar-benar menikmati kegiatan itu dengan mata memejam. Sehun menoleh, dia tersenyum lalu mengelus lembut rambut gadisnya.
“Kalau kau mengantuk kita tunda besok saja.”
Hana menggeleng. “Aku tidak mengantuk. Bahumu nyaman, semua yang kau punya itu sangat nyaman untukku.”
Sehun memindah lengannya melingkar di leher Hana. “Begini lebih nyaman?”
Hana mengangguk. “Eoh, sangat nyaman.”
Di balik topinya, rambut Sehun berubah menjadi merah menyala. Dia benar-benar menyukai posisi seperti ini di mana dia bisa mencium aroma tubuh Hana yang sangat wangi. Dia tahu kalau wangi itu tidaklah berasal dari parfum, melainkan darah yang mengalir di tubuh kekasihnya. Namun bau ini tidak membuatnya ganas layaknya vampire biasanya. Di dalam diri Hana, seolah ada pelindung yang bisa menahan Sehun agar tidak menghisap darahnya. Lagi pula Sehun sendiri tidak mau, Hana yang kini menghiasi hatinya, mati dalam keadaan tubuh tanpa darah karena kebuasan dirinya.
Lelaki itu mengecup dahi Hana cukup lama.
**
“Wuah.. akhirnya kita sampai di sini,” seru Hana ceria. Dia langsung menarik Sehun untuk mengikutinya mendekati pagar pembatas.
“Itu lihat Sehun, bagus kan? Seperti melihat bintang di langit,” ucap Hana seraya menunjuk kota Seoul yang dipenuhi dengan warna-warni lampu.
Sehun memandang pemandangan di depannya penuh kagum. “Ne, seperti melihat bintang.”
“Besok, kita pergi ke sungai Han, ne? sungai Han waktu malam juga bagus,” kata Hana sambil memeluk lengan Sehun.
“Eoh, terserah apa maumu,” balas Sehun sambil tersenyum.
Hana memekik senang setelah mendengarnya. Dia berjinjit dan kemudian..
CHUP!
“Gomawo-yo, Oh Sehun.”
Sehun yang semula terkesiap, kini ikut tersenyum. “Ne.”
Setelah puas melihat kota Seoul, Hana mengajak Sehun untuk memasang gembok harapan. Sesuai permintaan Sehun, mereka mengambil sepasang gembok dengan ukuran cukup besar. Di sebuah meja, mereka pun menuliskan harapan masing-masing.
^Hana side^
Ini adalah kencan pertamaku paling romantic bersama seseorang yang kucintai. Aku berharap, semoga momen seperti ini tidak akan berakhir. Aku ingin terus bersamanya, namja yang kucintai bernama Oh Se Hoon. Tidak peduli siapa dia, tidak peduli kata orang tentangnya, yang pasti aku tidak mau berpisah dengannya. Kuharap, semoga ada sebuah keajaiban yang bisa membuatku ada di sisinya selamanya. Aku sangat mencintai Oh Sehun. –Oh Ha Na-
^Sehun side^
Annyeong, aku Oh Se Hun. Usiaku 250 tahun dan aku berkencan dengan gadis sekaligus istriku yang berusia 16 tahun. Ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini, dan melihat bintang yang bukan di langit. Aku berharap, jika waktu diputar ke belakang, aku ingin tercipta sebagai manusia biasa, bukan makhluk beraga manusia seperti ini. Namun aku tetap ingin bertemu gadis ini jika aku benar-benar terlahir sebagai manusia biasa. Dia telah berjasa membuat perasaanku hidup. Harapanku yang kedua, aku ingin bertambah tua. Karena dengan begitu, gadisku tidak akan takut bertambah tua dan kami bisa menjalani masa tua bersama. Aku juga ingin, membuatnya menjadi perempuan sejati dengan mengaruniainya seorang keturunan. Kuharap semua yang kuinginkan terjadi. Untuk seseorang yang membuat perasaanku hidup, saranghae Oh Ha Na.
Mereka menggantungkan gembok masing-masing di tempat berbeda. Hana maupun Sehun merasa lega setelah menuliskan itu. Ketika mereka kembali bertemu, Sehun memberikan surprice hug nya. Tidak peduli mereka dipandang aneh oleh orang-orang karena masih berseragam, Sehun tetap memeluk kekasihnya dengan erat. Dia menyukai hangatnya tubuh Hana.
“Rambutmu berwarna soft pink, Sehun,” ucap Hana ketika melepas topi Sehun.
“Aku sedang jatuh cinta, Hana.”
Pipi Hana merona. Dia menyembunyikan wajahnya itu di dada Sehun agar tidak terlihat oleh orang lain.

TBC