[Cuap-Cuap Author] Pertama Kalinya Suka Jimin #HAPPYBIRTHDAYJIMIN


Waktu berlalu cepat banget, tahu-tahu udah mau akhir tahun aja. Dan sekarang udah bulan Oktober, tebak siapa yang ulang tahun di bulan ini? Yap! Park Jiminssi~~

Mulai D-11 sebelum Jimin ulang tahun, aku pingin bikin artikel atau apapun lah yang kujadikan event perayaan ulang tahun Jimin. Dan event itu kumulai dari bahasan ini. Yaitu kapan dan alasan aku suka Jimin untuk pertama kalinya. 

Sebenernya ya, aku itu nggak suka Jimin pas awal-awal tahu BTS. Image-nya Jimin itu (di mataku) suka berlagak seksi wkwkwk, dan aku tidak suka sama sekali. Pokoknya dulu itu aku anti Jimin. No way!

Tapi kemudian aku menemukan diriku tertarik pada orang yang nggak kusukai mati-matian. Dan itu gara-gara rambut pink Park Jimin! Please! Unyu dan badass banget dia pake rambut pink! Pas jidatnya ditutupin (Spring Day), dia keliatan 9999999999x cute, tapi pas jidatnya dipamer-pamerin (Not Today) badass-nya total! Such a duality man ever!

Awalnya aku denial. “No, no, masih lebih badass black hair Yoongi.” Tapi kemudian saya kena karma dan berakhirlah ngebiasin Yoonmin. 

Apalagi tuh ya, setelah lewat 2016, dia itu sifatnya kayak berubah gitu. Kelihatan lebih tenang dan sensitif. Udah tahu kan ya pas dia nangis di Burn The Stage gara-gara suaranya gak sesuai yang dia harapkan. Gara-gara itu aku punya ‘soft spot’ buat dia. Terlebih dengan rambut warna pink, dia kelihatan makin soft

Dan gara-gara Jimin, aku yang awalnya gak suka pink malah jadi suka pink lagi hiks.

Maybe aku punya fetish terhadap rambut cowok. Katakanlah sewaktu aku suka Yoongi aja, meskipun pas rilis Agust D dia rambutnya blonde, aku tuh makin suka setelah dia ganti warna ke hitam (di Blood Sweat & Tears). Apalagi kalau gaya rambutnya sesuai sama si cowok itu, duh aku makin suka. 

Masalah penampilan, aku pertama kali memang tertarik karena warna & gaya rambut Jimin. Tapi rasa tertarik itu semakin mendalam menjadi sebuah rasa suka karena sifatnya. 

Jujur, aku sama sekali anti orang yang perfeksionis. Tapi semakin aku melihat Jimin, aku semakin melihat diriku sendiri. Aku pun sama perfeksionisnya, tapi aku denial karena ‘perfeksionis’ selalu berorientasi negatif. Padahal aku tahu betul, tidak selamanya perfeksionis itu negatif. 


Seperti Jimin. Sisi negatif dari perfeksionisnya adalah perasaan kecewa yang berlebihan saat apa yang dia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (contoh: Burn The Stage). Sisi positifnya, dia selalu serius ngerjakan apa yang dia kerjakan, sehingga hasilnya pun worth it

Maklum, golongan darah A memang sudah melekat pada sifat perfeksionis.  

Sisi lain yang kusuka dari Jimin baru-baru ini adalah dia yang suka banget skinship. Dia nggak ragu untuk memeluk, mengelus rambut, atau bahkan mencium member BTS yang lain. I found it cute. Dia tipe penyayang banget. Jadi terbayang deh kalau seandainya dia jadi suamiku—EH! 

Aku juga suka banget sama suaranya. Entah ya, akhir-akhir ini kok aku lebih tertarik sama cowok yang punya suara feminin. Karena … entah, aku suka banget dengerin suara cowok yang nyanyi pake nada falsetto. Soft. Menyentuh banget.

Tapi aku itu kayak orang yang plin plan gitu. Di satu sisi, aku masih suka banget suara berat kayak Yoongi atau Taehyung atau Namjoon. Duh aku bingung deh sama aku. 

Nilai plusnya, Jimin suka kucing. Hampir semua member BTS lebih memilih anjing sebagai peliharaan, dan aku jarang banget liat member BTS (selain VMin) yang berinteraksi sama lil meow meow eh kucing maksudnya. Dan aku paling suka kucing tolong T^T.

Kata mama, “Pilihlah suami yang penyayang kepada binatang. Binatang aja disayang, apalagi kamu.” 

EKHEM, udah ada kode dari calon mertua nih, mas. 

Pokoknya Jimin tuh uhh bikin gregetan deh, pingin peluk wae pokoknya. Gemes abisnya T^T

Udahlah ya, pokoknya aku sayang Jimin. TITIK!